16 November 2013

Camila Vallejo, Mahasiswi Revolusioner dari Chile

camila vallejon
Perempuan dari Amerika Latin ini punya nama Camila Vallejo Dowling. Dia cantik tapi bukan bintang film. Tubuhnya aduhai tapi bukan model. Camila pimpinan pergerakan massa rakyat di Chile.
 
Rambutnya panjang bergelombang. Bola matanya indah kehijauan. Di hidung yang mancung itu bergantung anting. Ya, hidung perempuan kelahiran 28 April 1988 ini ditindik.
 
Tempo hari, sewaktu jalan-jalan di Santiago, Ibukota Chile dipenuhi barisan panjang mahasiswa, buruh, dan unsur massa rakyat lainnya ketika menentang rencana privatisasi pendidikan, Camila lah yang memimpin.
 
Kala itu dia menjabat Presiden Federasi Mahasiswa Universitas Chile (FECh). Aksi massa yang berlangsung berhari-hari itu sontak menjadi santapan empuk para pemburu berita. Wajah Camila pun bermunculan di media massa, lokal dan internasional. Termasuk Indonesia.
 
Berbagai televisi lantas rebutan mengundangnya untuk talkshow. Tak hanya pandai berorasi memimpin massa. Rupanya dia juga piawai berdebat di TV. Tak ayal jika banyak pemuda yang tergila-gila.
 
Satu di antaranya Gustavo Bombal. Seniman ini membuat surat cinta terbuka dan menciptakan sebuah lagu untuk gadis pujaan hati.
 
Diundang Fidel Castro
 
Sepak terjang Camila Vallejo mampu menarik perhatian pemimpin revolusi Chuba, Fidel Castro. April 2012 silam, Castro mengundang perempuan revolusioner itu ke Chuba. Camila datang bersama dua rekannya, Karol Cariola dan Luis Lobos  dari Pemuda Komunis Chile.
 
Pertemuan itu berlangsung tiga jam. Dalam kesempatan itu Castro membagikan buku terbarunya “Guerrillero del Tiempo” untuk tiga tamunya itu.
 
Meski sudah banyak makan asam garam, Castro tidak menggurui ketiga anak muda itu. Tidak ada nasehat. Beberapa media menulis, Castro hanya menyampaikan dukungan terhadap perjuangan mahasiswa di Chile dan memuji pemimpin karismatik gerakan ini; Camila Vallejo.
 
“Kita harus mendukung ide dari pemimpin muda Chile, Camila Vallejo, hingga pendidikan bisa gratis dan bisa diakses oleh seluruh rakyat,” begitu kata Castro.
 
 Gerakan mahasiswa Chile, kata Fidel Castro, telah berhasil menyelamatkan dan mengembalikan kepercayaan diri manusia. Menurut dia, selama ini manusia selalu dihadapkan dengan apa yang disebut akhir sejarah. Manusia dipaksa tunduk pada tatanan yang ada dan tidak ada pilihan lain.
 
 
“Dengan gerakan anti-privatisasi pendidikan, gerakan mahasiswa Chile telah menjadi subjek dari transformasi. Ini menyiratkan adanya  kekuatan yang bangkit melawan ketidaksetaraan, yaitu kekuatan transformasi.”
 
Pertemuan dengan Fidel Castro bagi Camila Vallejo amatlah istimewa. “Ini benar-benar hak istimewa. Fidel bagi saya dan pemuda kiri di Chile adalah salah satu pemimpin yang terpenting di dunia, seorang visioner yang besar,” kata Camila.
 
Senada juga diungkap Karol Cariola. Dalam pandangannya, Fidel Castro adalah contoh terbaik dari perjuangan. “Kami menyimpan kebanggaan dengan orang seperti Fidel, Che Guevara, Gladys Marin (pemimpin gerakan mahasiswa kiri Chile), Pablo Neruda, dan pahlawan kiri Amerika Latin lainnya.”
 
Forum dunia
 
Tak hanya berkecambah di kawasan Amerika Latin. Camila juga diundang sejumlah negara di Eropa, seperti Jerman.
 
Di sana dia didaulat menjadi pembicara dalam sebuah forum yang diorganisir oleh Partai Die Linke yang berhaluan anti kapitalisme.
 
Februari 2012, Camila Vallejo mendatangi markas Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di Jenewa, Swiss. Dia melaporkan berbagai bentuk kriminalisasi aktivis pergerakan di negerinya.
 
Bersama beberapa rekannya, Camila ditemui Komisioner PBB untuk urusan Hak Azasi Manusia, Navi Pillay. Mereka mengadukan bahwa saat ini parlemen Chile sedang merancang sebuah Undang-Undang yang mengebiri hak rakyat Chile untuk menggelar aksi demonstrasi.
 
UU itu, menurut dia, memungkinkan penguasa mengkriminalkan aksi damai jika mereka melakukan aksi pendudukan di tempat-tempat umum dan memblokir jalan. Bahkan para intelektual kritis dapat dipenjara paling minimal tiga tahun karena tuduhan menghasut.
 
Inilah yang kemudian membuat banyak pihak menyandingkan namanya dengan Bunda Teresa dan Che Guevara. Sangat humanis sekaligus revolusioner.
 
Sekadar catatan, 2011 lalu, nama pemimpin gerakan mahasiswa Chile itu muncul sebagai feature “person of the year” di majalah Time.
 
Dia juga didaulat oleh pembaca majalah Guardian di Inggris sebagai manusia paling populer di tahun 2011.
 
Camila Vallejo mengumpulkan suara cukup mencolok: 78% suara. Ia mengalahkan tokoh yang dianggap pemicu revolusi Tunisia, Mohammed Bouazizi, yang hanya mengumpulkan 14,9%.
 
Vallejo juga jauh mengungguli pemimpin pro-demokrasi Nyanmar, Aung San Suu Kyi, yang hanya mengumpulkan 0,8% suara.
 
Nama lainnya adalah Kanselir Jerman, Angela Merker, yang mengumpulkan 1,2% suara. Lalu, ada pula nama peraih nobel Kenya, Wangari Maathai, dengan 0,7% suara. Sedangkan Wael Ghonim, eksekutif pemasaran Google yang dianggap pahlawan revolusi Mesir, hanya mendapat 0,8% suara.

Camila kembali ramai disebut-sebut insan pers menyusul aksinya menentang kunjungan Presiden Amerika, Barack Obama ke Chile. Saat itu dia memimpin teman-temannya turun ke jalan.

hanya berbagi yang positif, semoga membawa inspiratif [dikutip dari banyak sumber]